Pendidikan adalah hak bagi setiap warga indonesia yang berada pada usia wajib belajar, oleh karenanya pendidikan bersifat umum dan siapapun boleh merasakan pendidikan tidak kecuali anak yang berkebutuhan khusu. Disini kami bersama-sama melakukan Observasi di SLB Putera Asih yang berada di desa balowerti kota kediri. Di sekolah ini terbagi ke dalam kelompok tuna grahita dan tuna rungu. Observasi dilakukan guna mengetahui lebih jauh tentang proses pembelajaran yang dilakukan di SLB ini.
Observasi dilakukan pada hari sabtu tanggal 15 November 2014. Setelah sampai dilokasi kami mendapat arahan dari bapak dosen berkenaan dengan tugas observasi ini. Setelah pengarahan kami langsung masuk ke lingkungan sekolah di situ kami melihat anak-anak yang begitu ramah menyambut kami dan begitu ceria. Sekilas mereka terlihat seperti anak normal pada umumnya.
Kami mulai memasuki kelas dan berinteraksi dengan anak-anak yang ada di kelas dan menyempatkan ngobrol dengan guru yang ada di dalam kelas tersebut. Dan hasil yang kami dapat yaitu disekolah ini terdiri dari SD, SMP, dan SMA. Adapun pembagiannya yaitu kelompok B tuna rungu, kelompok C tunagrahita.
Untuk SD B (ringan) siswa kesulitan bicara, mereka menggunakan isyarat bahasa dalam berkomunikasi, mengalami kesulitan dalam pemahaman akan tetapi masih bisa diajak berfikir. Lulusan anak kelompok B ada yang di Universitas Brawijaya (UB) jalur khusus, setiap Perguruan Tinggi (PT) ada kuota untuk anak berkebutuhan khusus. Untuk durasi waktu pembelajaran perjam di SD normal 35 Menit sedangkan di SLB 30 menit.
Untuk SD kelas 3 tuna graita ringan ada 6 anak, mereka dalam membaca masih dibantu akan tetapi dalam menulis sudah bisa. Pembelajarannya mewarnai, meronce (keterampilan). Untuk gambar disediakan sekolah, sedangkan grayon, buku tulis membawa sendiri. Adapun media yang digunakan berupa puzzele, rumah-rumahan, gambar 3D. Untuk pengaturan jadwal dari sekolah. Kurikulum menyesuaikan khusus SLB. Disini ada siswa yang ahli dalam bernyanyi, lari, menari dan mewarnai. Dalam mengenal warna masih dibantu. Dan dalam ujian semua naik kelas.
Untuk SD kelas 6 terdiri 6 anak. Pelajarannya sama dengan TK pada sekolah normal. Dalam pembelajaran untuk menyelesaikan 1 tema butuh waktu berbulan-bulan. Materi ujian membuat sendiri disesuaikan dengan kemampuan anak. Jika anak tidak bisa menulis maka dituliskan guru, Ujian semua lulus.
SMP tuna rungu hambatannya pada pendengaran, namun sebenarnya pandai. Medianyapun canggih berupa komputer. Keterampilan yang diajarkan berupa sablon. Sedangkan SMP tunagrahita terdiri dari, kelas 7 ada 5 anak, kelas 8 ada 2 anak sedang kelas 9 kosong. Disini yang memegang satu guru tiap satu kelas. Dan kurikulum yang dipakai KTSP. Pembelajarannya dalam 1 bulan 2 huruf. Yang tidak bisa menulis dibantu dan tiap kelas maksimal 8 anak.
SMA tuna grahita, terbagi kedalam kelompok mampu didik dan mampu latih. Mampu didik yaitu siswa mampu menulis dan membaca. Sedangkan mampu latih berupa kemampuan keterampilan yaitu mereka yang bisa dilatih seperti menyablon, dan sebagainya. Untuk kelas10 terdiri 4 anak, untuk 11 terdiri 3 anak. Yang diajarkan materi anak SD pada sekolah normal. Untuk kurikulumnya memakai kurikulum 2013 tapi hanya terbatas pada kelas 10, 7, 1 dan 4. Untuk pendekatan pada kurikulum 2013 sudah ada tapi belum dapat dilaksanakan dengan maksimal. Untuk setiap mata pelajaran beban ajarnya 2 jam per mata pelajaran kecuali MTK 4 jam per mata pelajaran. Untuk durasi waktunya 45 menit per jam pelajaran. Sedangkan untuk mata pelajaran keterampilannya antara 6-8 jam pembelajaran.
Adapun kendalanya kondisi pembelajaran yang kurang kondusif, anak ngomong sendiri, ketika diterangkan tidak mendengarkan.
0 comments:
Post a Comment