NAMA : IFA DATI ALI URFA
NIM : 932106712
KELAS : PAI B
TEMPAT : YAYASAN PENDIDIKAN LUAR BIASA “PUTERA ASIH” KOTA KEDIRI
Di SLB “Putera Asih” terdapat jenjang sekolah mulai dari TK hingga SMA, di SLB tersebut dikelompokkan menjadi 2 bagian yakni tuna grahita dan tuna rungu serta tuna wicara. Dikarenakan beberapa hal, kami hanya bisa mengunjungi beberapa kelas saja. Di antaranya kelas yang kami kunjungi yaitu kelas 8-9 SMP. Di kelas ini anaknya mengalami tuna grahita ringan, jumlah anak di kelas 8-9 berjumlah 7 anak.
Kendala yang di alami oleh guru pembimbing di kelas tersebut ialah ketika anak emosi sulit diberi materi dan tidak ingin belajar.Kemudian kami mengunjungi kelas 5-6, di mana kelas ini di tempati anak tuna grahita ringan. Kelas ini dijadikan satu karena jumlah muridnya sedikit di kelas 5 berjumlah 4 dan di kelas 6 juga berjumlah 4 anak. Menurut keterangan dari guru yang mengajar kendala dalam mengajar yaitu perkembangan dalam menerima pelajaran lambat dan terbatas, peserta didik sulit memahami materi pelajaran yang di berikan.
Selanjutnya kami mengunjungi kelas TK yang mengalami tuna rungu sehingga juga mengalami tuna wicara. Di kelas ini terdapat 5 anak. Guru pembimbing mengatakan bahwa saat pertama kali anak-anak masuk belum bisa melakukan apa-apa. Bahkan belum bisa berkenalan dengan teman satu kelas. Kemudian kami juga mengunjungi peserta didik di kelas SMA, anak di kelas ini mengalami tuna wicara. Saat itu pelajaran yang sedang berlangsung yakni ketrampilan, anak-anak di bebaskan keluar kelas untuk berolahraga maupun menyablon.
Di PLB juga memiliki kurikulumnya sendiri yang telah disesuaikan dengan ketetapan pemerintah. Namun tidak semuanya bisa di terapkan untuk peserta didik di SLB tersebut. Alasannya karena standar yang di berikan pemerintah memiliki target yang terlalu tinggi untuk anak-anak. Sehingga pihak sekolah menyesuaikannya dengan kemampuan anak-anak. Selain itu guru di tuntut untuk sabar dan tlaten dalam memberikan bimbingan.
Dalam satu hari mempelajari 2 mata pelajaran, satu pelajaran waktunya 35 menit. Sedangkan biaya yang di perlukan tidak jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya. Beberapa anak di SLB “Putera Asih” juga mendapat beasiswa baik dari yayasan maupun pemerintah. Di sekolah ini juga terdapat ujian seperti di sekolah pada umumnya, tetapi ada beberapa perbedaan, diantaranya saat ujian berlangsung guru masih harus membimbing muridnya dan membacakan soal ujian dengan pelan-pelan agar peserta didik bisa faham.
Di sekolah ini tidak ada peserta didik yang tinggal kelas, karena apabila terdapat anak yang tidak naik kelas bisa mengakibatkan anak tersebut menjadi enggan sekolah lagi karena merasa tertinggal dari anak-anak yang lainnya. Di sini juga di sediakan beberapa lapangan pekerjaan untuk anak yang sudah lulus sekolah misalnya cuci motor, membuat paping, dll.
Meskipun mereka memiliki keterbatasan tetapi mereka tetap memiliki semangat dalam belajar, bahkan ada beberapa peserta didik yang pernah mengikuti lomba dan mendapatkan juara 1 tingkat nasional, selain itu hasil dari karya peserta didik biasanya juga di ikutkan dalam pameran-pameran. Beberapa keterampilan yang telah disediakan oleh sekolah seperti menyablon, komputer, menjahit, dll. menjadi motivasi bagi peserta didik untuk tetap semangat dalam belajar.
Menurut keterangan dari kepala sekolah, bagi peserta didik perempuan diberi ketrampilan tata busana sedangkan untuk peserta didik laki-laki diberi ketrampilan menyablon, dan menurut beliau beberapa lulusan dari SLB ada yang melanjutkan di Perguruan Tinggi. Misalnya melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Malang.
Dari pemaparan di atas, dapat di ambil kesimpulkan bahwa semua anak memilik hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yakni anak yang memiliki kebutuhan khusus bisa mendapatkan layanan pendidikan yang sama seperti anak normal pada umumnya. Meskipun ada beberapa perbedaan. Dalam hal ini anak yang memiliki kebutuhan khusus tidak bisa di sembuhkan tapi setidaknya guru pembimbing bisa menggali potensi yang ada pada diri si anak, agar potensi tersebut bisa di kembangkan secara optimal. Sehingga, suatu saat ketika mereka yang memiliki kebutuhan khusus sudah beranjak dewasa bisa mandiri dalam kehidupannya dan bisa bermanfaat bagi masyarakat di lingkungannya atau di sekitarnya.
0 comments:
Post a Comment